Pengaplikasian Renminbi dalam Perdagangan China Indonesia
Bagaimana Renminbi dipakai Dalam Perdagangan Antara China dan Indonesia
China telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama lebih dari satu dekade. Pada 2023 saja, nilai perdagangan bilateral kedua negara menembus puluhan miliar dolar AS, dengan arus impor dan ekspor yang semakin terintegrasi ke rantai pasok global. Di balik angka besar tersebut, ada perubahan penting yang sering luput dari perhatian pelaku usaha, yaitu pergeseran mata uang transaksi dari dolar AS menuju penggunaan mata uang lokal, khususnya Renminbi atau Yuan.
Perubahan ini bukan sekadar wacana kebijakan. Dalam praktik perdagangan China Indonesia, pengaplikasian Renminbi mulai terasa nyata, terutama bagi importir dan eksportir yang ingin menekan biaya, mengelola risiko kurs, dan bertransaksi lebih efisien.
Renminbi dan Posisinya dalam Perdagangan Internasional
Renminbi, yang juga dikenal sebagai Yuan, adalah mata uang resmi Republik Rakyat China. Dalam satu dekade terakhir, China secara konsisten mendorong internasionalisasi Renminbi agar tidak hanya digunakan di dalam negeri, tetapi juga dalam perdagangan lintas negara. Hasilnya mulai terlihat. Renminbi kini termasuk dalam jajaran mata uang yang paling sering digunakan untuk settlement perdagangan global, terutama di kawasan Asia.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan karena struktur perdagangan dengan China sangat intensif. Banyak kontrak impor bahan baku, mesin, dan barang konsumsi berasal dari China, sementara ekspor Indonesia ke China mencakup komoditas strategis seperti nikel, batu bara, dan produk agrikultur. Ketika transaksi sebesar ini masih sepenuhnya bergantung pada dolar AS, pelaku usaha menghadapi biaya konversi berlapis dan risiko fluktuasi yang tidak selalu sejalan dengan kondisi ekonomi bilateral.
Kebijakan Rupiah dan Yuan dalam Transaksi China Indonesia
Untuk menjawab tantangan tersebut, Indonesia dan China telah menyepakati skema Local Currency Settlement. Melalui mekanisme ini, transaksi perdagangan dan investasi dapat diselesaikan langsung menggunakan Rupiah dan Renminbi tanpa harus melalui dolar AS sebagai mata uang perantara.
Bank Indonesia dan People’s Bank of China mendukung kebijakan ini dengan menunjuk bank-bank tertentu sebagai penyedia layanan settlement. Dari sisi regulasi, penggunaan Yuan dalam perdagangan Indonesia China sepenuhnya legal dan didorong, terutama untuk transaksi yang memiliki underlying ekonomi yang jelas.
Kebijakan ini bukan hanya soal efisiensi teknis, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sistem keuangan dan mengurangi ketergantungan pada satu mata uang global.
Bagaimana Pengaplikasian Renminbi dalam Transaksi Ekspor Impor
Dalam praktiknya, pengaplikasian Renminbi cukup sederhana, meskipun sering terdengar rumit bagi pelaku usaha yang baru pertama kali mencobanya. Importir Indonesia dapat menyepakati pembayaran dalam Yuan dengan mitra di China, lalu melakukan settlement melalui bank atau penyedia layanan yang mendukung RMB. Begitu juga eksportir Indonesia, yang dapat menerima pembayaran dalam Renminbi dan mengelolanya sesuai kebutuhan bisnis.
Yang berubah bukan alur bisnisnya, melainkan mata uang yang digunakan. Kontrak, invoice, dan pembayaran disesuaikan ke Yuan, sehingga eksposur terhadap fluktuasi dolar AS dapat dikurangi secara signifikan. Bagi perusahaan dengan volume transaksi rutin, dampaknya terasa langsung pada struktur biaya.
Baca juga: Dompet Digital untuk Ekspor Impor: Panduan Pemula
Manfaat Penggunaan Yuan bagi Pelaku Usaha Indonesia
Salah satu manfaat utama penggunaan Renminbi adalah efisiensi biaya. Tanpa konversi ganda dari Rupiah ke dolar lalu ke Yuan, biaya transaksi menjadi lebih terkendali. Selain itu, pelaku usaha memiliki fleksibilitas lebih besar dalam negosiasi harga dengan mitra China, karena menggunakan mata uang yang lebih familiar bagi pihak penjual.
Dari sisi manajemen risiko, penggunaan Yuan membantu mengurangi ketergantungan pada volatilitas dolar AS yang sering dipengaruhi faktor geopolitik global. Dalam konteks perdagangan bilateral, kurs Rupiah terhadap Yuan cenderung lebih mencerminkan kondisi ekonomi riil antara Indonesia dan China.
Tantangan yang Masih Dihadapi di Lapangan
Meski manfaatnya jelas, penggunaan Yuan dalam perdagangan Indonesia China belum sepenuhnya merata. Salah satu tantangan utama adalah literasi operasional. Banyak pelaku UMKM dan bahkan perusahaan menengah masih belum terbiasa mengelola saldo Renminbi atau memahami mekanisme settlement-nya.
Selain itu, akses ke layanan pendukung juga menjadi faktor penting. Tidak semua pelaku usaha memiliki kemudahan untuk melakukan top up Yuan dengan cepat, aman, dan transparan. Tanpa solusi praktis, kebijakan yang baik sering kali berhenti di level konsep.
Prospek Renminbi dalam Perdagangan Indonesia China
Melihat arah kebijakan dan tren global, peran Renminbi diprediksi akan terus meningkat. Media dan lembaga riset mencatat bahwa penggunaan Yuan dalam transaksi dagang Indonesia China tumbuh seiring dengan dorongan dedolarisasi di berbagai negara. Bagi pelaku usaha, ini bukan tren jangka pendek, melainkan perubahan struktural yang perlu diantisipasi sejak dini.
Perusahaan yang lebih awal beradaptasi cenderung memiliki keunggulan, baik dari sisi efisiensi biaya maupun kesiapan operasional.
Mengelola Transaksi Renminbi dengan Lebih Praktis
Di sinilah kebutuhan akan solusi yang praktis menjadi krusial. Menggunakan Yuan dalam perdagangan bukan hanya soal kebijakan dan niat, tetapi juga soal eksekusi sehari-hari. Pelaku usaha membutuhkan cara yang mudah untuk mengelola saldo Renminbi, melakukan top up, dan memastikan transaksi berjalan lancar.
Kargoo.id hadir sebagai solusi yang relevan untuk kebutuhan tersebut. Dengan pendekatan yang fokus pada kemudahan dan keamanan, Kargoo membantu pelaku usaha mengakses dan mengelola Renminbi tanpa kerumitan yang sering terjadi pada sistem konvensional. Bagi importir dan eksportir yang aktif bertransaksi dengan China, solusi seperti ini bukan lagi pelengkap, tetapi bagian dari strategi operasional yang efisien.
Pengaplikasian Renminbi dalam perdagangan China Indonesia bukan lagi masa depan, melainkan realitas yang sedang berjalan. Dengan pemahaman yang tepat dan dukungan solusi yang sesuai, pelaku usaha Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini untuk memperkuat daya saing di pasar internasional.
Photo by Freepik